Proses Pengajuan KPR

26-05-16 | Membeli Properti

Mengingat harga properti naik terus, tidak banyak orang mampu membeli rumah idaman secara tunai, maka Kredit Pemilikan Rumah atau KPR menjadi solusi. Dengan fasilitas KPR, kita cukup menyediakan uang muka sebesar 30persen dari nilai properti dan sisanya digenapi bank lewat KPR.

Pihak bank selektif dalam memilih calon pengguna KPR agar tidak dirugikan. Pihak bank pun tidak segan menuntut calon pengguna KPR untuk mengikuti tata cara yang berlaku dan menyiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk KPR.

Proses pengajuan KPR ke bank sebagai berikut :

1. Siapkan dokumen sebelum mengajukan ke Bank

Persyaratan Umum

  • WNI dan berdomisili di Indonesia.
  • Karyawan tetap dengan  pengalaman kerja minimal 2 tahun.
  • Wiraswasta dengan  pengalaman usaha minimal 3 tahun.
  • Profesional dengan  pengalaman praktek minimal 2 tahun.
  • Usia minimal pada saat pembiayaan diberikan adalah 21 tahun, dan maksimal usia pensiun untuk karyawan atau 65 tahun untuk wiraswasta dan profesional.

 Karyawan

  • Kartu Tanda Pengenal (KTP)
  • Kartu Keluarga dan Surat Nikah
  • Slip Gaji terakhir atau Surat Keterangan Gaji
  • Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir
  • NPWP pribadi.

 Wiraswasta

  • Kartu Tanda Pengenal (KTP)
  • Kartu Keluarga dan Surat Nikah
  • Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir
  • Laporan Keuangan 2 tahun terakhir
  • Legalitas Usaha (Akte pendirian berikut perubahan terakhir, TDP, SIUP, NPWP)
  • NPWP pribadi.

 Profesional

  • Kartu Tanda Pengenal (KTP)
  • Kartu Keluarga dan Surat Nikah
  • Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir
  • Izin praktek yang masih berlaku
  • NPWP pribadi

Dokumen properti yang ingin dibeli :

  • Salinan izin mendirikan bangunan (IMB)
  • Salinan sertifikat tanah
  • Peta Lokasi dan PBB terakhir
  • Salinan surat tanda jadi dari pemilik rumah / developer yang menyatakan persetujuan menjual rumah tersebut.

Bawa semua dokumen pengajuan KPR ke Bank untuk diperiksa secara administratif . (Bank akan memeriksa jejak nasabah melalui BI Checking apakah layak mendapat pinjaman).

2. Proses appraisal. Kalau membeli rumah melalui developer yang sudah bekerja sama dengan bank, tahapan appraisal biasanya tidak dikenakan biaya. Karena bank sudah setuju dengan nilai rumah tersebut, jadi tidak perlu menilai harga rumah yang menjadi obyek jaminan kredit. Lain hal dengan membeli rumah yang developer tidak bekerjasama dengan bank atau membeli rumah bekas. Maka pihak bank akan mengutus petugas untuk menilai / melakukan appraisal rumah tersebut. Calon pembeli rumah akan dikenakan biaya appraisal dengan besaran sesuai dengan kebijakan bank. Lain halnya jika mengajukan KPR ke bank syariah yang tidak memungut bayaran jasa appraisal. 

3. Kalkulasi penawaran bank. Setelah bank setuju mencairkan pinjam KPR, ada beberapa hal yang perlu dipelajari dari penawaran bank :

- Perhatian tawaran suku bunga . Bank pada umumnya telah menetapkan bunga KPR mereka, sebagai contoh katakanlah 12%, maka bukan tidak mungkin bagi anda untuk tetap melakukan negoisasi dengan mereka mengenai besar bunga tersebut, begitu juga dengan besar plafond dan jangka waktu KPR anda tetap bisa negoisasikan.

Sebagai saran pilihlah bank yang memberikan bunga terendah dengan palfond tertinggi serta jangka waktu terlama.

- Syarat dan ketentuan yang digariskan bank terutama pinalti jika melunasi sebagian/ seluruh hutang sebelum masa kredit berakhir dan besaran denda yang diberlakukan bank bila terlambat membayar. Juga metode pembayaran angsuran.

- Pelajari detail rincian biaya KPR seperti biaya provisi, Pajak pertambahan nilai (PPN), biaya balik nama sertifikat dan lain-lain.

4. KPR disetujui bank , maka bank akan mengeluarkan SPK (Surat Persetujuan Kredit) dan tertulis notaris yang ditunjuk untuk mengurus semua persyaratan . Soal tarif notaris, bank biasanya meminta calon pembeli rumah menanyakan langsung ke notaris. tarif notaris bukan bank yang menentukan jadi bisa bernegosiasi dengan notaris. Tarif notaris meliputi jasa pengurusan dokumen Perjanjian kredit (PK), Akta Jual Beli (AJB) , biaya balik nama, pajak, cek sertifikat, Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dan lain-lain.

5. Tanda tangan akad kredit merupakan puncak dari proses pengajuan KPR. Biasanya akan dilakukan pemberitahuan rencana penandatanganan akad kredit. Pihak yang hadir antara lain pihak pembeli (suami dan istri), wakil dari bank, pihak penjual dan notaris. semua pihak tidak bisa diwakilkan karena wajib menunjukkan identitas asli ke hadapan notaris. Notaris akan memerika semua keabsahan dokumen baik dari pihak pembeli atau penjual. Jika semua lancar dan dokumen akad kredit ditandatangani, maka bank akan mentransfer dana ke pihak penjual dan notaris juga memproses balik nama sertifikat tanah, AJB, ke pemilik rumah baru. 

Surat-surat yang diurus notaris akan diserahkan ke bank bersama surat izin mendirikan bangunan (IMB) sebagai jaminan atas kredit tersebut. Notaris akan memberikan salinan sertifikat itu kepada pihak pembeli dalam jangka waktu tertentu.

Proses pengajuan KPR membutuhkan waktu yang panjang kira-kira 6 sampai 12 bulan. Begitu akad kredit sudah ditandatangani. Angsuran bulan sudah bisa dibayar di bulan berikutnya. 

Kesalahan yang harus dihindari dalam pengajuan KPR

Kesalahan yang sering terjadi ketika mengajukan kredit kepemilikan rumah ternyata banyak dialami oleh sebagian orang. Kesalahan ini biasanya disebabkan ketidaktahuan mereka akan alur bisnis properti. Agar kesalahan tersebut tidak terjadi pada Anda ketika akan mengajukan kredit kepemilikan rumah sebaiknya perhatikan tips berikut:

1. Secara psikologis, orang yang takut berutang akan meminjam uang dengan nilai yang paling kecil dan waktu yang paling pendek. Sebenarnya , jika dihitung lagi, jangka waktu pengembalian uang yang lebih panjang akan meringankan pemohon kredit karena harga properti dipastikan akan terus naik, sedangkan biaya cicilan tidak berubah. 

2. Orang yang meminjam uang ketika mereka tidak mempunyai uang. Namun, bank hanya memberikan pinjaman kepada orang yang berduit. Banyak yang menganggap bahwa orang yang berutang berarti usahanya tengah menurun. Hal ini memunculkan anggapan bahwa berutang baiknya ketika usaha yang dijalani jatuh. Hal ini membuat bank tidak menyetujui permohonan kredit. 

3. Biasanya orang menabung setelah penghasilannya dikurangi pengeluaran. Hal ini salah karena bank melihat cash yang dihasilkan setiap bulan dan tidak melihat pengeluaran. Dengan melakukan hal tersebut, penilaian bank terhadap Anda akan berkurang.

4. Banyak yang menganggap bahwa membayar tunai lebih bagus daripada utang. Akhirnya, banyak orang membeli rumah dengan menabung dulu. Namun, ketika uang tabungan cukup, harga properti akan naik. Akhirnya , properti yang diidam-idamkan tersebut tidak bisa dibeli.